Viewers

Saturday, January 9, 2016

Secret Admirer [Bab 3: Mr. J]

OH MY G, J? WHO IS HE?

Temanku yang inisialnya J itu cuma Jeremy, Jason, Jonathan, Jeff, sama Jimmy, dan mereka pun cuma temen satu angkatan. Satu-satunya yang deket sama aku ya cuma Jeremy, tapi kan dia deketnya sama Kenya. Tapi..gak ada salahnya kan kalo aku berharap bunga ini dari Jeremy?
Emang sih akhir-akhir ini Jeremy sering ngasih kabar, tapi..Aku gak mau baper, siapa tau dia cuma iseng atau mau bikin PHP aja.

***

Jeremy Johnson: Pagi cantik

Aura Putri: Pagi Jeremy, ada apa pagi-pagi?

Jeremy johnson: Gak ada apa-apa. Emangnya gak boleh nge-line kamu?

Aura Putri: Boleh kok..

Jeremy Johnson: Kamu ada acara gak hari ini?

Aura Putri: Gak ada, kenapa?

Jeremy Johnson: Kita makan yuk, aku pengen jalan sama kamu.

Aura Putri: Tapi aku gak punya uang.

Jeremy Johnson: Nanti aku yang bayar, tenang aja.

Aura Putri: Serius?

Jeremy Johnson: Iya serius. Yaudah sekarang kamu dandan yang cantik ya, nanti aku jemput di rumah kamu. Bye.

Aura Putri: Bye..

What the F?? SERIUS?? JEREMY NGAJAK JALAN?? YA AMPUNNN SENENG BINGGOOOOOWWW, AH NGEFLY.

Aku bersiap-siap secantik mungkin tanpa perlu berdandan terlalu menor karena aku tidak cocok berdandan.
Tidak sampai 1 jam, Jeremy sudah sampai di rumah, Ia berpamitan dengan orang tuaku lalu kami pergi menuju Mall yang mewah.

"Kamu mau makan apa Ra?" tanya nya lembut.

"Emm bebas deh"

"Nanti kalo aku yang pilihin takutnya kamu gak suka"

"Kalo gitu aku mau nasi goreng cumi aja deh"

"Minumnya?"

"Milkshake coklat"

"Oke"

Sambil menunggu pesanan datang, aku dan Jeremy saling berusaha mencari topik pembicaraan. Maklum, ini kali pertama kami nge-date berdua, sebelumnya sih emang gak pernah.
Aku hanya bisa tertawa garing ketika jeremy memberikan lelucon-lelucon ringan, aku menghargai itu.

"Kalo di liat-liat kamu cantik juga ya Ra" Pandangannya berubah.

"Ah biasa aja" pipiku memanas.

"Ih serius tau, apalagi kalo kamu lagi blushing kayak gitu, cantiknya makin nambah"

"Haha..bisa aja. Tuh makanannya udah dateng" Aku sangat canggung, bukannya ke geeran, tapi karena pada saat ini aku di hadapkan dengan Christopher Jeremy Johnson, cowok Most Wanted di sekolah.

"Mukanya tegang banget, selow aja kali neng"

What?

"Ah, nggak kok, aku biasa aja. Oh ya, aku mau nanya, boleh?"

"Wani piro?"

"Oh gitu, okey" Aku menarik sudut bibir ku ke bawah.

"Ahaha boleh kok, nanya apa?" Mata biru nya yang indah kini terlihat jelas, gantengnya.. eh?

"Kenapa kamu gak pacaran sama Kenya?" Aku penasaran dengan hubungan Jeremy dan Kenya.

"Aku tau, Kenya emang cantik, tapi.." wajahnya tertunduk

"Tapi apa?" Aku melihatnya lebih dalam tepat di belakang retinanya.

"Jujur, semenjak kita sering presentasi bareng, kalo aku liat senyum kamu kayak nya 'wow' gitu" Kini pandangannya sangat tulus seperti anak kecil yang tidak berdosa.

Wait, what? 'wow'?

"Maksud kamu apa?" aku mengerutkan dahiku.

"Ah, nggak kok, bukan apa-apa. Oh ya, aku mau ceritan nih. Semalem aku dapet paket..."

DEG..

"....pas aku buka, isinya mawar merah, baguuss banget"

a little bit happiness in my life.

"Oh ya? Dari siapa?" Aku memasang tapapan itu-dari-gue!

"Tulisannya sih from secret admirer"

"Wahhh...so sweet, tapi ya wajar aja sih, orang kayak kamu fans nya banyak. Hmm.." Mataku memandang sekitar.

"Ada apa Aura?" Telapak tangannya yang halus menyentuh punggung tanganku.

"Aku juga kemarin dapet kiriman bunga mawar, sendernya nulis 'Love: J', apa itu kamu?" Adrenalinku mengalir deras hingga rasanya jantungku mau copot.

"Mawar merah?" Dahinya mengkerut.

"Forget it" Aku melanjutkan makanku tanpa ingin melanjutkan perbincangan tadi.

Usai makan, Jeremy mengajakku berbelanja sebentar. Ia membelikanku 1 casual dress dan 1 wedges. Aku berterima kasih.
Tidak sampai adzan magrib aku sudah sampai di rumah. Ibu hanya tersenyum melihat aku yang kini tengah dekat dengan cowok yang super ganteng.

'Apa dia suka sama gue? Ah masa sih, masih banyak yang lebih cantik dari gue' Kataku sambil menatap cerminan diri ku. Oh please. Buluk banget.

Bunga mawar!

Aku lupa menaruhnya dimana, ya ampun, teledor banget. Sejurus kemudian pandanganku tertuju pada box berwarna pink. Aku rasa ini box kado yang kemarin. Damn. Ternyata disini, buang-buang tenaga. Aku memasukan ujung tangkai bunga mawar ini ke dalam vas bunga kecil yang sebelumnya tidak pernah di pakai.

***

"The Most Wanted sekolah kita, Jeremy Johnson kini tengah dekat dengan teman sekelasnya sendiri; Citrus Aurantifolia Putri."

Apa-apaan nih? Siapa yang berani pasang gosip murahan kayak gini?

Aku merobek kertas tersebut dari mading sekolah, kurang ajar. Tapi aku rasa satu sekolah udah baca gosip basi beginian. Pasti orang ini sirik sama aku.

Berjalan di koridor, aku melihat fans-fans Jeremy sedang memelototi ku layaknya buronan yang baru keluar dari penjara. Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi otakku.

"Kapan lo jadian sama Jeremy?"

"Kok bisa Jeremy suka sama lo? Padahal kan selama ini Kenya yang deket sama Jeremy?"

"Eh! Inget ya, lo anak baru di sini tapi udah berani macem-macem!"

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saat semua fans Jeremy, bahkan kakak kelas yang fans nya Jeremy pun melabrakku. Fathar...lo dimana?

"Aura!"

Yang dipanggil menoleh.

"Fatharrrr, gue mau cerita sama lo" Rengekku manja.

"Yaudah cepet, mumpung sepi"

"Sorry ya gue gak cerita sama lo kemaren kalo gue jalan sama Jeremy.. Kemaren pagi-pagi banget dia nge-line gue Thar, dia ngajak gue jalan, belanja juga, trs abis itu gue gak kontakan sama dia lagi, eh pas tadi pagi gue baru aja masuk gerbang, ada berita baru di mading, tau nya ada gosip gue sama Jeremy Thar...bener kan kata gue, aduhh gue ngeri sama Kenya nih Thar, gue harus gimanaaa? Help meee"

"Tenang aja, selagi lo masih sama gue aman. Lagian kenapa lo mau aja jalan sama Jeremy? udah tau dia banyak mata-mata"

"Gue kan gak tau Thar...Kalo tiba-tiba Kenya dateng beserta dayang-dayang nya gimana Thar?"

"Ya lo calm down aja, jangan panik, santai, ok"

Fathar menarik tubuhku menuju kelas. Sekarang pelajaran Pak Eddy, guru bahasa Perancis. Aku tidak terlalu paham dengan bahasa Perancis, tapi Fathar selalu menikmati tiap detik pelajaran pak Eddy.

"Ra, gue pindah sebentar ya, Jeremy mau ngomong sama lo"

Tepat satu setengah meter di depanku, Jeremy, so cool... eh? Ia menduduki bangku yang biasa di duduki Fathar.

"Ra, lo gak marah kan soal berita di mading? Jangan salah paham ya Ra, please, itu bukan akal-akalan gue, ini pasti dari orang-orang yang sirik sama lo kalo lo deket sama gue Ra.."

lo? gue?

"Ya, gue maafin kok. Yaudah gue mau belajar sama Fathar, tolong pergi dan gue mau Fathar yang duduk di sini, sorry" Jawabku membuang muka.

"Oke Ra kalo itu buat lo tulus maafin gue" Ia bangkit dari bangku Fathar. Aku tidak benar marah padanya, aku hanya ingin tau apa respon Jeremy kalo gue marah sama dia.

Tepat pukul 15.40 bel berbunyi menandakan sudah waktunya pulang. Seperti biasa Fathar selalu mengantarku pulang menggunakan motor vespa kesayangannya. Dasar cowok antik.

***

Aku men-check semua perlatan sekolah yang aku bawa besok pagi. Tetapi.. apa ini? Aku mengambil minibox berwarna pink gelap sama seperti minibox yang waktu itu aku dapat. Aku membuka tutup minibox itu dan... DEG... Mawar merah lagi.

Aku membaca kertas yang menggantung  di bawah tangkai bunga ini, lagi:

"I'm sorry my princess, don't be sad. I will always with you.

Love: J"

Secret Admirer [Bab 2: Christopher Jeremy Johnson]

Sinar mentari pagi menusuk hingga ke tulang-tulangku, sangat menyengat hingga aku terbangun dari tidur nyenyakku. Astaga, sudah jam 10! Oh ya, tapi kan hari ini hari sabtu.
Tercium aroma terasi dari arah dapur…sepertinya aku mengenali wangi ini, sambal terasi kesukaanku. Ibu pasti masak sayur asem pakai tempe goreng dan sambal terasi. Aku menghampiri ibu yang sedang menyiapkan makanan.

“Need some help mom?” tanyaku

“Artinya apa tuh?” Jawab ibu pura-pura tidak tau.

“Yah ilah si emak, pura-pura gak tau. Mau di bantuin gak mak?”

“Gak usah, telat, tuh dari tadi adik kamu yang bantuin ibu masak, gimana sih, masa kalah sama anak kecil” oke aku tau,  ini hanya untuk membuat adikku, Joe, senang. Baiklah.

“Uhh..iya deh Joe adik yang paling cantik, rajin pula” Kataku sambal mencubit pipinya yang kenyal.

“Iya dong.. gimana sih kakak bangunnya siang banget” Katanya lembut dengan suara khas anak kecil berumur 7 tahun.

***

“Fathar, temenin gue jalan yuk, lo gak ada acara kan? Kalo bisa jangan terlalu sore”
From: Jeruk Nipis.

Sambil menunggu balasan dari Fathar, aku menonton serial TV anak-anak favoritku: Jalan Sesama (Sesame Street). Karena menurutku acara seperti ini lebih mendidik di banding sinetron-sinetron percintaan yang merusak generasi penerus bangsa karena mengajarkan pacar-pacaran bahkan perkelahian yang tidak selayaknya di pertontonkan bagi anak-anak bocah.

Tok..tok..tok..
Jeruk nipis, gue diluar nih

Saat aku membuka pintu, aku langsung dihadapkan dengan kaca mata bulat milik Fathar. Ini anak gila kali ya, belom ada setengah jam udah rapih. Tanpa banyak basa-basi aku menyuruhnya pergi dari kamarku dan aku segera mandi dan berpakaian tanpa perlu berdandan.

Kami pergi ke café Starbucks, aku memesan 2 greentea, satu untukku dan satu untuk Fathar.

“Jadi ada acara apa lo ngajak gue kemari? Cuma mau traktir gue greentea? Ya elah gue bisa kali beli sendiri.”

“gue mau cerita” jawabku ketus

“Cerita apaan?” Jawabnya acuh.

“Gue suka sama Jeremy.” Aku memasang muka datar.

“WHAT THE HELL??” Matanya melototiku. Biasa aja kali, alay.

“Shit! Gak usah teriak-teriakan curut, norak lo, jadi pada ngeliat kesini kan”

“Ya sorry-sorry, tapi gue kaget, lo suka sama The Most Wanted di sekolah kita? Hell-ooo, jangan ketinggian lo, ntar kalo jatoh sakit”

“Ya, gue udah tau itu Cuma mimpi bagi gue buat milikin Jeremy,  tapi ya yang namanya orang suka Thar, mau diapain? Emang sih Jeremy itu Playboy, tapi—ah! Bodo. Pasti banyak resiko yang bakal gue dapet kalo ada yang tau gue suka sama Jeremy. Gue bisa di bully abis-abisan sama gengnya Kenya Willona, DAN Jeremy kan juga deketnya sama Kenya. Apalagi Kenya juga Most Wanted di sekolah.. huft”

“Nah, tuh lo tau, masih aja ngarep” Jawabnya enteng sambil menyeruput greentea yang masih dingin.

“Eh, lo kalo gak niat dengerin gue mending lo pulang sekarang juga, empet gue sama lo Thar. Eek lo!”

“Yaudah, bye Aura, thank u ya greentea nya, enak lho.. hati-hati ya” Ia bangkit dari kursinya dengan wajah abstraknya.

“Jahat banget sih lo Thar!”

“Yah elah Ra, baper lo. Gak ada salahnya kali lo mau suka sama siapa aja, manusiawi.”

“Yaudah gue to the point aja. Gue mau ngajak lo ke toko bunga, bantuin gue milih bunga yang bagus buat gue kasih ke Jeremy.”

"Oh haha..secret admirer nih jadi nya? cie"

"Yaudah ayok gece ntar keburu sore"

Melangkahkan kakiku keluar dari cafe ini, aku memakai helm dan menaiki motor Fathar. Ia memang seorang yang patuh dengan aturan.
Sesampainya di toko bunga, aku langsung tertarik dengan setangkai mawar merah yang sangat indah ini.

Fathar hanya membuntutiku dan tidak banyak bicara karena aku tau dia memang tidak suka, katanya membosankan. Apa peduli gue?
Berhubung di sebelah toko bunga ini ada toko kado, aku mampir kesana untuk membeli box kado. Aku memilih warna hitam bercampur biru karena terlihat elegan, tak lupa aku menyisipkan secarik kartu bertuliskan:

"From ur secret admirer. I hope u like it."

Setelah selesai dari toko kado, aku meminta Fathar untuk mengantarku ke kantor pos sebentar. Aku berpesan kepada tukang pos untuk tidak mencantumkan namaku/apapun denganku di paket itu.
Di sepanjang perjalanan pulang, aku hanya mendengarkan Fathar ngomel-ngomel karena aku terlalu lama.

Setelah sampai di rumah, aku langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat aku meletakkan kepalaku di bantal, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjalnya.

"What? Kado? Dari siapa? Perasaan gue gak ulang tahun"

Aku merobek-robek kertas kado bergambar Baymax itu. 'Dari Jeremy mungkin gak ya? Oh my G, impossible' Menampar diriku ke bawah, aku membuyarkan khayalan yang gak mungkin terjadi.
Spontan mulutku terbuka membentuk huruf O, bagaimana tidak, seseorang mengirimku mawar merah persis seperti yang aku beli tadi. 'Fathar? gak mungkin, I know him so well. Dia aja belom bisa move on dari Raima, lagi pula tadi kan dia buntutin gue' batinku.
Mataku langsung fokus kepada kertas berwarna pink yang menggantung di tangkai bunga, bertuliskan:

"From ur secret admirer. I love all your weakness. I hope u'll understand.

Love: J"

Saturday, January 2, 2016

Secret Admirer




PROLOG

“Aw!”
Teriakan tersebut memecahkan keheningan suasana kelas baruku. Maklum, karena kami murid baru disini, dan belum terlalu mengenal satu sama lain. Teriakan tersebut datang dari sudut kelas ku, seorang gadis lugu bernama Natasya yang selalu dijahili Jeremy dengan menjepretnya menggunakan karet.
Setelah menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS), aku merasa lega terlepas dari aturan-aturan aneh yang merepotkan dari senior kami.


CHAPTER 1:  Fathar Putra Soedirman


“Gue Fathar, lo siapa?”
Seseorang membuyarkan lamunanku sambil menjulurkan tangannya ke arahku. Sok kenal, ew. “Gue Citrus Aurantifolia Putri, biasa dipanggil Aura” Jawabku tanpa perlu membalas uluran tangannya. “Dih, gue gak nanya nama panjang lo, pede banget lo.” Lah?
“Yaudah sih, lo duluan yang ngajak kenalan, sok-sok kenal sama gue, malah lo yang nyolot.” Sepercik api mulai menyala di ubun-ubun membakar kesabaranku. “Whoa! Slow down. Gue cuma becanda kok. BTW, nama lo bagus juga ya, Citrus Aurantifolia Putri, cewek jeruk nipis! Haha! Right?” Astaga. Pria ini sungguh menjengkelkan. Api kemarahanku semakin berkobar, panas, membakar habis isi kepalaku. Dari mana dia bias tau arti nama ku? Ah, aku sangat membenci arti nama itu. “Dasar sok tau! Gak usah basa-basi deh! Gak penting! Pergi jauh-jauh deh!” Tanpa menunggu balasan dari Fadhel- eh Fathur, ah entahlah siapa namanya, gak penting, aku berjalan melalui kerumunan orang  yang sedang menunggu pengumuman kelas mereka, menjauhi Fathur.
“WOY JERUK NIPIS! MAU KEMANA LO!” Shit!
Api yang tadinya mulai padam kini berubah menjadi kobaran api yang menari-nari mengelilingi kepalaku hingga menimbulkan ledakan hebat seperti bom Hiroshima Nagasaki. Aku kembali menghampirinya, mengusir orang-orang disekeliling yang mengganggu jalanku. Kudapatkan pria itu, tanpa mengulur-ulur waktu, aku memberinya sebuah tattoo cap 5 jari berwarna merah membentuk telapak tangan ku.
“Enak?” Aku melihat wajahnya yang menyedihkan itu sambal melipat kedua tangan di dada, menyeringai puas seperti ketua geng yang baru saja menghabisi musuhnya.
“Eh iya, udah, sorry ya, gue cuma bercanda.”
“Bercanda lo lucu!” Tatapku sinis
“Ketawa lah kalo lucu, susah banget”
“Mau gue tambahin tuh tattoo di pipi lo yang satu lagi?”
“EEHH iya, nggak, hee..”
PLAKK!!! Tinggallah di kedua pipinya dengan corak yang sama.
***
“Eh jeruk nipis, nyontek dong” Dasar sok pintar.
Sekarang aku sudah terbiasa dengan panggilan “Jeruk Nipis”, awalnya aku selalu memukulnya apabila ia menyebutkan panggilan itu, tapi aku sudah terlalu malas mengangkat tanganku untuk memukulnya, buang-buang tenaga.
Aku dan dia, Fathar, cowok yang paling menjengkelkan yang pernah aku kenal sekarang menjadi teman dekatku, tidak, bukan sahabat, menggelikan apabila mengingat bahwa orang yang dulu aku benci sekarang menjadi sahabatku, jadi cukup ‘teman dekat’.

Kami masuk kejuruan yang sama yaitu; akuntansi. Fathar merupaakan sesosok makhluk Tuhan paling seksi, eh makhluk Tuhan paling menggelikan yang hari-harinya hanya membaca komik dan belajar. Pantaslah dia memakai kaca mata bulat seperti Harry Potter, bedanya Harry Potter jauh lebih tampan darinya. Sedangkan Fathar? Tidaklah jauh berbeda dari para kutu buku yang memakai kaca mata tebal.
Ku akui, ia memang pintar, sangat pintar- sok pintar. Ia dekat dengan guru-guru. Dia sangat terampil dalam mengambil hati guru-guru, lebih tepatnya ‘Tukang Caper’.
Ku rasa aku mulai gumoh membicarakannya. Walaupun aku terkesan membencinya, tapi aku dan dia selalu ada saat saling membutuhkan.
Ponsel ku berdering menampilkan nama Fathar, ngapain ini anak tumben sms.
‘Ra, temenin gue jalan yuk, gue tunggu lo di tempat biasa, satu jam lagi, gak mau tau. Bye, see you’
Ah, gak perlu aku membalasnya, ngabis-ngabisin pulsa.
***
“Gue putus sama Raima” aku tersentak kaget dengan ucapannya.
“WHAT THE F-?! Gak percaya gue, lo kan tukang bohong” wajahnya terlihat sedih, lemah, letih, lelah, lesu, lunglai (?). Tapi raut wajahnya tidak menampakkan bahwa dia sedang bercanda, oke ini serius.
“Serius gue Ra, lo gak liat muka gue?” Aku melihat dari ekor matanya, ada setitik rasa sedih, kecewa, dan tampak benjolan kecil di kantung matanya, pasti abis nangis, dasar cengeng!
“Lo yang mutusin atau si Raima?”
“Dia Ra, dia bilang katanya kita udah gak cocok lagi, dan gue denger-denger dari temen-temennya kalo dia mau pindah keluar kota.”Matanya yang belo mulai berkaca-kaca.
“Ah, lebay lo! Cowok kok nangisin cewek, gak kebalik tuh” Aku tidak suka kelakuannya yang seperti bocah 5 tahun yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.
“Lo jahat banget sih Ra, lo seneng liat gue sedih?”
“Jelas gue ikutan sedih Fathar, tapi gue gak suka ngeliat lo nangis kayak bayi gitu, helloow, gue akuin dia emang cantik, pinter, tapi ya ikhlas lah Thar, lagian belom tentu lo jodoh sama dia. Masih banyak yang lebih dari Raima. Contoh, Josephine, Tiffany, Jessica, dan kawan-kawan, kalo lo sa-“
“Apa Ra apa!” Ia memotong kata-kata ku, mungkin dia marah, karena aku terus membanding-bandingkan Raima dengan cewek-cewek yang memang lebih cantik dari Raima.
“Kok diem? Tadi ceramah? Ra, gue akuin mereka emang cantik, tapi mereka mana mau Ra nerima cowok kayak gue, gak gaul, kampungan, gaulnya sama komik. Dan gue gak peduli berapa banyaknya cewek cantik di sekolah, gue tetep sayangnya sama Raima.”
“Oke.” Aku tidak bisa membalasnya, dia akan berubah menjadi monster Inc ketika ia marah. “Lo yang traktir kan Thar? hehe..”
“Lo jeruk nipis paling asem yang pernah gue temuin Ra”.

Sunday, March 15, 2015

Childhood [Part 2: Sekolah Dasar]

DI SD, aku duduk sebangku dengan teman waktu aku masih di taman kanak-kanak dulu, Ananda atau Nanda. Ia memiliki rambut panjang, kulitnya putih, dan postur tubuh yang kecil. Ia sangat lucu, ditambah lagi dengan suaranya yang cempreng. Namun aku tidak berteman dekat dengannya.
Ami? Ya, ia tidak bermain dengan ku, tapi aku tidak merasa cemburu atau sedih.
Hari pertama aku masuk sekolah, aku masih di temani ibuku sampai bel masuk, aku merupakan seorang yang amat sangat menyukai cemilan, di depan sekolah ku banyak sekali tukang jajanan yang menggoda seperti batagor, es kelapa, empek-empek, dan masih banyak lagi. Aku minta dibelikan batagor, lalu es kelapa, hingga uang jajan ku habis padahal belum masuk pelajaran, dan ibuku memarahiku.
“jajan banyak-banyak banget sih, besok mama kasih 1000 aja ya!”
“yah…mama jangan dong”
“ya lagian kamu kalo pegang uang boros banget sih”
“besok enggak lagi deh ma…”
Memang waktu itu jajanan belum mahal seperti sekarang, harga batagor dulu masih 500, tapi sekarang beli 1000 pun kadang tidak dikasih.
Semua yang dikatakan sama ibuku ternyata benar, keesokan harinya aku diberi uang jajan 1000.
“yah…mama masa 1000 doang sih”
“udah, daripada kamu boros, cukup-cukupin aja”
“yah..yaudah deh ma”
Untung istirahat hanya 1 kali, jadi aku tidak perlu banyak jajan. Aku satu sekolah dengan abangku, terkadang kalau abangku membeli batagor, aku suka minta, hehe. Ibuku berpesan, “jangan suka beli minum-minuman gelas, nanti batuk, pakai gula biang soalnya” aku selalu mengingat pesan dari ibuku, dan karena pada saat itu umurku masih sangat kanak-kanak, aku sangat patuh dengan kata-kata ibuku.
Pernah sekali aku tidak sengaja melihat abangku minum minuman gelas di kantin,
“kak, kan kata mama gak boleh minum gituan”
“sssttt…udah, jangan bilang-bilang mama lho”
Sepulang sekolah, aku pulang terlebih dahulu daripada abangku, aku langsung mengadu kepada ibuku tentang abangku di sekolah tadi
“mah..mah, masa tadi Ifa liat kakak minum minuman gelas gitu ma”
“wah kakak bandel ya, dibilang jangan minum begituan masih aja”
Tidak lama kemudian abangku pulang…
“kakak tadi di sekolah minum minuman gelas ya? Tanya ibuku
“enggak kok ma..kata siapa?”
“udah jujur aja deh..mama tau kok kamu bohong”
“iya, ma, kakak tadi beli minuman gelas di kantin”
“udah dibilangin jangan beli, masih aja beli”
“iya..besok enggak lagi kok ma”
Abangku langsung menghampiri ku…
“ini pasti Ifa bilang-bilang mama ya?”
“iya, lagian kakak beli gituan, kan gak boleh”
“awas ya, kalau Ifa ketahuan beli minuman gelas kakak bilangin mama lho”
“bilangin aja” nada ku meledek
Semenjak di SD ini, aku tidak terlalu sering bermain dengan Ami, ia suka mengajak teman sekelasnya bermain ke rumahnya. Tapi kalau ada temannya aku tetap ikutan bermain, namun aku merasa tidak nyaman, karena tidak enak seperti dulu.
Sesekali aku masih suka bermain ke rumah Ami, bermain dengan kakaknya.
“main restoran-restoranan aja yuk” Kata Ami,
“ayuk, aku jadi pembelinya ya” sambung aku
“teteh jadi pelayannya, Ami juga pembelinya”
“yaudah. Ibu mau pesan apa?”
“aku mau 1 gelas air manis hangat ya” aku pura-pura memesan
“kalau ibu mau apa?” kata teteh sambal menengok ke Ami
“aku mau jus jeruk satu ya”
“oke, tunggu sebentar ya, bu”
…………
“ini untuk ibu Ifa, 1 gelas air manis hangat, dan ini untuk ibu Ami, 1 gelas jus jeruk” teteh memberi 2 gelas, yang satu punyaku benar berisi air manis hangat, tetapi untuk Ami hanya air putih yang pura-pura sebagai jus jeruk
“aduh, airnya masih panas banget, tambahin air dong” akhrinya aku menambahkan sedikit air dingin, tetapi membuat rasanya menjadi tidak manis.
Lama kelamaan kepalaku terasa pusing karena terlalu banyak meminum air manis itu, karena tak tahan aku memuntahkan semuanya.
“kenapa Ifa?” Tanya teteh
“enggak apa-apa, tadi airnya bikin mual” jawabku
“oohh…”
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku main ke rumah Ami, menonton VCD.
“mau nonton yang mana Fa?”
“Teletubies aja Mi, yang ini” aku memilih salah satu film kesukaanku ketika masih kecil dulu.
Dulu sewaktu aku masih di taman kanak-kanak, aku selalu bangun sangat pagi hanya untuk menonton acara Dora The Explorer atau Teletubies dari mulai jam setengah 5 pagi.
“Teletubies…Teletubies, berpelukan” suara dari TV.
“Mi, video-in dong pakai handphone papa kamu” seruku.
“tapi jangan lama-lama ya, takut dimarahin”
Saat di sekolah, aku bercerita tentang Teletubies kemarin di depan teman-teman Ami, teman-teman Ami hanya melihat ku dengar tatapan kebingungan dan Ami hanya senyam-senyum, jujur aku sangat kesal, tapi aku hanya diam dan melupakan hal itu. Ingin rasanya aku memarahi mereka, “ngapain sih lo pada ngeliatin gue!”
Pernah sekali waktu aku main ke rumah Ami, Ami sedang bermain dengan teman sekelasnya…
“eh Ifa, sini enggak apa-apa, ikutan” kata Ami
“ah enggak ah Mi, aku pulang aja” kataku merasa sedikit sedih
“udah gak apa-apa Ifa, ikutan aja” sambung ibunya Ami
“yaudah, deh”
Akhirnya aku ikut bermain bersama mereka, namun aku hanya diam dan tidak banyak bicara karena aku tidak kenal dengan mereka. Tidak lama kemudian aku pulang karena merasa kesal.
“lho kok udah pulang dek? Tumben, biasanya sampai sore” Tanya mama ku
“iya, ada temennya Ami ma, gak enak”
“oohh…siapa?”
“enggak tau, gak kenal”
Sebenarnya aku sangat tidak suka kalau ada orang lain antara aku dan Ami saat bermain, aku tidak ingin persahabatan aku dan Ami memiliki jarak. Aku itu orangnya apabila sudah klop dengan satu orang, tidak ingin ada yang mengganggu. Tapi lama-lama aku terbiasa tidak terlalu sering main dengan Ami.
Di kelasku, aku bermain dengan Diana, Nanda, Olla, Putri, dan Siti. Aku belum mengenal semua teman-teman sekelas ku padahal sudah lumayan lama. Pada saat naik-naikan ke kelas 2, aku mendapat peringkat 3 di kelas. Alhamdulillah.
“Ami, kamu peringkat berapa?” tanyaku
“gak tau, Fa” jawab Ami sambil menunduk.
Sesampainya di rumah aku tanya ibuku..
“Ma, mama tau gak Ami peringkat berapa? Masa tadi Ifa tanya Ami jawabnya nunduk gitu”
“Iya, ternyata Ami dapat peringkat 7” jawab mama
“oohhh..gitu”
Di kelas 2, aku juga tidak sekelas dengan Ami. Aku 2a, ia 2b. Sudah mulai mengenal banyak teman sekelasku, Fitri, Hikmah, Ria, Dinda, dan masih banyak lagi tapi aku lebih dekat dengan Diana. Fitri dan Hikmah adalah sahabat dekat, waktu itu ia sedang saling marahan. Teman-temanku sangat lucu bertanya “Ifa, kamu pilih siapa? Hikmah atau Fitri” aku jawab “Hikmah, deh”. Teman-teman ku ternyata banyak memilih hikmah, lalu salah satu temanku ada yang memberi tau “Fa, si Fitri kan nangis gara-gara yang milih dia sedikit”.
Kalau waktu dulu, aku merasa kasihan, tetapi sekarang aku ingin tertawa kalau mengingatnya. Dasar anak-anak. Berhari-hari Hikmah dan Fitri marahan akhirnya baikan juga, Fitri pun tidak perlu menangis lagi karena sedikit yang memilihnya, karena setiap hari teman ku selalu bertanya “pilih Hikmah atau Fitri?”. Anak-anak perempuan sekelas selalu mengikuti Hikmah kemana-mana, ke kantin, jalan-jalan mondar-mandir, bahkan buang sampah.
Saat pulang sekolah aku selalu bareng Ami dan Diana, hari ini begitu terik, Ami sangat lama keluar kelas, dan sebelum pulang ia membeli mainan dan memilihnya sangat lama
“Ami cepetan dong, panas nih” aku bergerutu
“sebentar dong, Ifa” jawabnya
“tapi ini panas banget” aku mengomel
“yaudah, deh!”
Ami jalan sangat cepat mendahului aku dan Diana, aku rasa ia marah, tapi lagian kan ini sangat terik. Aku ngoceh sepanjang jalan
“Ami kalau mau beli mainan milihnya jangan lama-lama dong, udah tau lagi panas banget, gerah tau, besok kan juga bias, gak jadi beli juga kan ujung-ujungnya”
Aku menggerutu tidak jelas sepanjang jalan, habismya aku kesal, entah kenapa. Kebesokannya Ami sama sekali tidak menegurku, sepertinya ia marah, ah tapi masa iya sih, aku tidak pernah berantem dengan Ami. Aku mencoba bertanya kepada Ami, dia marah atau tidak. Tapi ia hanya diam saja, pura-pura tidak mendengar. Aku bilang ke ibuku tentang Ami, ibuku juga bercerita ke ibunya Ami, ternyata Ami marah denganku, padahal aku hanya kesal kemarin saja tapi Ami sepertinya sakit hati, tapi aku sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati, aku hanya berkali-kali bilang “jangan lama-lama dong, udah tau panas banget”. Ternyata Ami sangat susah diminta maafnya, aku main ke rumahnya, ia tidak mau keluar, di sekolah aku minta maaf, aku dicuekin. Ya sudah, aku diam saja, hampir satu bulan aku dan Ami bertengkar, tidak pernah main ke rumah, tidak menegur, dan lain-lain. Sepertinya ibunya Ami membujuk Ami suapaya tidak terus marah-marahan denganku. Ibuku menyuruhku main ke rumah Ami.
“enggak ah, ma, nanti Ifa dicuekin”
“enggak..udah sana main”
“mama temenin Ifa, ya?”
“iya, ayuk mama anterin”
Aku sebenarnya takut ingin main ke rumah Ami, karena ia tidak mau di ajak mengobrol. Sampai di rumah Ami, ia senyum ke padaku lalu meminta maaf”
“Ifa, maafin aku, ya” katanya dengan nada sangat lembut
“iya, Mi, aku juga minta maaf ya”
“iya enggak apa-apa”
Sekarang Ami sudah punya teman main baru, namanya Nur, ia juga teman ku, tapi aku tidak terlalu mengenalnya. Aku normal-normal saja dengan Ami, namun Ami terlihat kaku. Aku sekarang jarang pulang sekolah bareng dengan Ami, tapi itu hanya awal-awal saja, lama-lama kami seperti biasa lagi.
Aku mendapat kabar bahwa Ami akan pindah rumah saat naik-naikan kelas 3 nanti. Tidak! Aku tidak mau berpisah dengan Ami, aku tidak mau jauh-jauh dengan Ami. Aku sangat sedih. Di sekolah aku tanya Ami, apakah ia akan benar ingin pindah rumah.
“Ami, emang kamu beneran mau pindah rumah?” tanya ku
“iya, Fa, nanti kalau aku kelas 3 aku pindah ke Bogor..”
“yahhhhh Ami….kita gak bisa main lagi dong”
“bisa kok, Fa, kalo kamu main ke rumah aku nanti”
“iya tapi kan jauh, Mi”
“iyaa..semoga aja aku sering-sering main ke sini”
“tapi aku gak mau kita pisah, Mi”
“iya, aku juga, Fa”
Di rumah, aku tanya ibuku
“ma, emang bener Ami mau pindah ke Bogor?”
“iya, katanya sih gitu”
“emang kenapa ma?”
“katanya rumahnya mau di pakai buat kantor”
“kantor siapa emangnya?”
“mama juga gak tau”
Aku sesering mungkin main ke rumah Ami, sampai malam pun aku bermain ke rumahnya. Sampai ada saudaranya pun aku tidak mau pulang. Aku ingat waktu masih TK dulu, aku sakit demam berdarah dengue berbarengan dengan Ami. Begitu lah sahabat, sakit pun bisa sama.
Pada saat mendekati hari Ami akan pindah rumah, aku main ke rumahnya hingga jam 9 malam.
“Ami, aku bakalan kangen sama kamu”
“iya aku juga”
Aku pulang ke rumah dengan wajah sedih. Di rumah ibuku bertanya “kok pulang?” mama…mama, rumah aku kan disini… “kalo boleh balik lagi sih Ifa balik lagi ma” jawab ku.
Keesokan harinya ternyata Ifa belum pergi, aku sangat senang karena bisa bermain lagi dengan Ami. Tapi semester 2 akan segera berakhir, dan cepat atau lambat Ami akan pindah. Tiba saatnya Ambil rapot naik-naikan kelas 3, aku kembali mendapat peringkat 3 di kelas. Beberapa hari kemudian ternyata waktunya Ami pindah, aku mendatangi rumahnya, barang-barangnya sudah di kemas.
“yah, Ifa jarang main lagi deh sama Ami” kata ibunya Ami
“iya..Ami main sering-seringin ke sini ya”
“iya, Ifa juga nanti nginap di sana ya”
“horeeee!!!”
Aku dan Ami hanya saling melempar senyum, tidak tahu apa yang akan di bicarakan. Tidak lama kemudian Ami berangkat bersama ayah dan ibunya, hal yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku berlari ke jalanan untuk melihat Ami.
“daaaahhhh Ami…” aku melambaikan tangan
“dadaaaa”
“daaahhhh”
Tidak bosan-bosannya aku melaimbaikan tangan hingga motor yang di naikinya tidak terlihat lagi, sampai motornya benar-benar tidak terlihat, aku pulang. Aku tidak menangis, mungkin terlalu sedih untuk di tangisi. Sepasang sahabat hampir 7 tahun pun harus berpisah. Aku masih terus membayani Ami, aku ingin mandi sore lagi bersamanya, makan satu piring dengannya, membereskan mainan yang berantakan, bermain scooter, berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng. Aku pasti akan cemburu melihat Ami bermain dengan teman barunya. Aku tidak mau kalau aku tergantikan dengan teman barunya. Tapi keadaan membuat itu menjadi terbalik.

Saturday, March 14, 2015

Childhood [Part 1: Ami]

Aku rasa belum ada orang yang cocok bersahabat dengan ku. Sudah berulang kali aku mendapatkan teman dekat, namun tidak pernah bertahan lama.
Aku, Ifabella, atau biasa dipanggil Ifa. Aku berumur 14 tahun duduk di bangku kelas 2 SMP.
Sewaktu aku berumur 3 tahun, aku memiliki teman, teman dekat, sahabat, atau bahkan seperti saudara, bernama Isrami atau Ami. Kami berteman sangat akrab. Kami satu sekolah, setiap aku akan berangkat sekolah ia tidak pernah tidak menyampar ku.
"Ifa...!" 
"Iya sebentar ya"
"Ayuk cepetan keburu siang"
"Iyaudah yuk jalan"
Kami selalu diantar oleh orang tua kami. melewati pasar, menyeberangi rel, adalah hal yang selalu kami lakukan saat menuju sekolah.
Jarak rumah kami pun tidak terlalu jauh, setiap hari aku tidak pernah tidak pergi main ke rumahnya. Setiap pulang sekolah, aku ganti baju, makan, lalu pergi main ke rumah nya. Selalu begitu.
Mandi bareng, makan bareng, berangkat sekolah bareng, dan masih banyak.
Saat umurku 5 setengah tahun aku akan di masukkan ke sekolah dasar oleh ibuku. Namun saat pendaftaran guru nya bilang, "maaf ya, bu, umur anaknya belum cukup, sebaiknya satu tahun lagi." Ya, karena aku lahir di bulan november, umurku kurang 4 bulan pada saat itu. Tapi selain itu, aku juga belum mau masuk sekolah dasar karena Ami masih ingin paud. Hahahaha. Memang aku dengan Ami layaknya bayangan. Kalau aku tidak ada, yaa Ami pun juga tidak ada. Akhirnya aku dan Ami mengulang sampai tahun depan.
Hari ini kebetulan aku sudah rapih lebih dahulu dan Ami juga belum menyampar ku, aku pun menyamparnya.
"Ami...!"
"Iya masuk aja dulu"
"Mi udah jam segini, cepetan"
"Iya sebentar aku bedakan dulu"
"Haduhhh, kalau aku aja udah jam segini di suruh cepet-cepet"
"Iya sebentar"
"Itu bibirnya kenapa merah? Pakai lipstick ya?"
"Nggak kok, abis minum fanta tadi"
"Alah, bohong aja"
"Itu liat aja di kulkas, masih ada fanta nya"
"Iya deh, yaudah aku ke rumah dulu, ya, ambil tas"
"Iya nanti balik lagi ya"
"Iyee"
Seorang Ami, kalau aku tinggal berangkat sekolah duluan, pasti akan ngambek dan tidak mau berangkat sekolah, walaupun dia tau aku sudah di sekolah. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkannya, tapi aku terkadang merasa geregetan kalau dia terlalu lama-lama siap-siap.
Walaupun terkadang aku suka meninggalkannya, ia tidak pernah marah.
Setelah pulang sekolah aku main ke rumahnya. Main ayunan, aku pusing kalau terlalu kencang apalagi sambil mengobrol, ingin muntah rasanya. Tapi Ami selalu mendorongnya kencang-kencang dan tertawa melihatku pegangan erat-erat pada pegangan ayunannya.
"Ami jangan kencang-kencang!! Pusing!!"
"Hahahahaha"
"Mual Miii...udahhh"
"Hahahhahaha"
"Udah ah turun aja!"
"Main file aja yuk, kamu ambil dong, Mi, file kamu"
"Iyaudah aku ambil dulu ya"
"Iya"
Aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambile mainan file untuk anak-anak yang lembaran kertasnya bergambar-gambar lucu. Aku dan Ami sangat senang mengoleksinya, kalau ayah Ami membelikannya 1 pack, Ami akan membaginya. 
"Tukeran binder ya"
"Nih kamu pilih aja, 2 ya"
"Iya fa, aku mau yang ini"
"Iya ambil aja, aku suka yang ini, lucu..buat aku ya"
"Ah jangan ah, yang seperti itu jarang"
"Yah..ami, sama aku gini..."
"Enggak ah.."
"Main gunting batu kertas aja yuk"
Gunting batu kertas maksudnya, kami mengambil salah satu binder lalu suit gunting batu kertas, dan yang menang akan mendapat binder yang sudah kita ambil.
"Gunting batu kerrrrtas!"
"Yeeee aku menang! sini, fa, bindernya"
"Yahhh, nih, deh"
"Gunting batu kerrrrtas!"
"Horeee aku yang menang! Mana, Mi, bindernya"
"Uhh dasar!"
"Udah sore, mandi yuk!"
"Mandi bareng aja, fa"
"Yaudah aku ambil baju dulu ya, Mi"
"Oke, balik lagi ya"
"Iya"
Aku dan Ami terkadang mandi bersama di rumahnya. Selesai mandi, aku pulang ke rumah ku. Rasanya sama saja ya? Hehe.
Hari demi hari, bulan demi bulan, umurku sudah 6 setengah tahun. Aku pun mendaftar di sekolah dasar, yang sama dengan Ami. Memang tidak terpisahkan. Sekarang umurku sudah cukup, dan aku bersekolah di sekolah dasar dekat dengan rumahku.
Namun aku dengan Ami tidak satu kelas, aku 1a, ia 1b. Orang tuanya sengaja meminta agar aku dan Ami tidak satu kelas, karena apabila kita satu kelas lagi seperti waktu masih di taman kanak-kanak, Ami akan bergantung dengan ku.

Monday, January 19, 2015

When We Can Meet Again?

10 agustus 2013
Adalah hari dimana pertama kita bertemu
Masih ku ingat semua percakapan kita
Percakapan yang begitu singkat, padat, dan jelas
Masih ku ingat senyum manismu
Senyum yang begitu sempurna bagiku

15 agustus 2013
Adalah hari dimana terakhir kita bertemu
Sejak hari itu, kita belum pernah bertemu kembali
Aku ingin kita bertemu lagi
Melakukan hal konyol yang sebenarnya tidak lucu

Tertawa begitu kencang hanya karena sebuah komik 'Sinchan'
Bermain bulu tangkis yang sebenarnya aku tidak bisa
Jalan berdua di temani adikku
Berlagak tidak mau saat ditawari boneka
Mematikan lampu kamar saat aku didalamnya

Aku ingin semua itu terulang kembali
Aku rindu hal-hal indah yang pernah kita lakukan bersama
Aku rindu melebihi kata 'rindu'
Seandainya waktu bisa diputar
Aku akan meminta untuk mengulang semua itu

Sering kali aku menyembunyikan apa yang ingin ku katakan
Aku tidak berani mengatakannya
Aku ingin mengungkapkan kepadamu bahwa

Aku rindu padamu
Ingin rasanya aku menghabiskan waktuku bersamamu
Bukan maksudku untuk memaksa
Namun memang ini yang aku rasakan

Akan tetapi aku tahu
Bukan hanya aku yang merasakan ini
Begitu pula dengan mu

Jika kita akan bertemu lagi
Aku tidak bisa mengungkapkan bahagianya diriku dengan kata-kata
Dunia akan serasa milik kita berdua
Apabila kita bertemu..

Disuatu hari yang indah
Dikala matahari bersinar terang
Burung-burung berkicau bak bernyanyi
Sampai sang fajar memperlihatkan indahnya matahari terbenam

Dan apabila hari itu datang
Aku akan berterima kasih kepada matahari
Karena telah menyinari hari yang begitu berarti
Serta aku akan meminta sebuah permintaan kepada bulan
Untuk menyinari malam yang penuh kegelapan

Sunday, January 18, 2015

Dekat Di Hati - RAN

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati 

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun kau dekat di hati

Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun kupergi

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
dekat di hati
dekat di hati